Selasa, 11 September 2018


Berbeda Arah Menuju Satu Tuju
(Oleh : Usi Supinar)

Bismillah...
Langkah pertamanya ia pijakkan penuh semangat
Batinnya tak ada kata keluh di pagi penuh hangat

Ada gugah tanpa gundah
Fajar menyingsing kian indah

Tak banyak yang ia tahu
Tak banyak yang ia mengerti
Hanya rasa yang kian hari kian mendalam
Semakin bersemayam
Indah dalam nyamannya diam

Ia bergegas ke arah timur
Menuju keramaian yang tak dapat dipungkiri dapat membuatnya gugur
Jika ia tak pandai bersyukur

Di ujung sana
Arah menuju barat
Kau dekap semangat penuh erat
Ia berharap kau menemukan jalan menujunya, segera sampai, tak tersesat

Kabarnya kau juga tengah bersiap mengarungi perjalanan panjang
Mungkin penuh halang
Mungkin penuh rintang
Ia harap kau akan terus berjuang
Demi rasa yang tak hanya sekadar untuk dikenang

Mungkin kau tak menyadari
Disetiap rintangan perjalanannya ia juga mengingatmu
Meminta pada Rabb-nya agar kau sanggup lalui ini semua

Dari arah yang berbeda
Kau dan ia setengah berlari
Mengharap temu menjadi penyatu
Dengan perjuangan menghadapi rintangan yang mungkin tak sama
Kau dan ia terus menapaki
Tanpa berkabarpun kalian menuju satu tuju

Kau biarkan ia nyaman dalam diammu
Meskipun ada harapan mendalam yang kian menujumu

Sudahkah kau yakinkan ia bahwa ia akan baik-baik saja?
Meski ada cemas sebab tak ada kabar dari sosok yang tengah berkelumit di benaknya

Berjuanglah sebisamu
Sampai kau sampai di ujung baratmu

Biarkan ia juga berjuang melawan cemasnya
Demi sampai di ujung timurnya

Langkahmu menuju kepastian arah mungkin belum kau yakinkan padanya
Tapi langkahnya menuju pertemuan denganmu telah ia tekadkan dalam keyakinannya

Tengah Jalan Menuju Timur, 11 September 2018_06:07

BuahPenaUsiSupinar.blogspot.com 
#30DWCJILID14 
#SQUAD7 
#HariKe-21
#Bismillah...
.
.

Hentakkan semangatmu demi berjumpa dengannya dengan melibatkan Rabb-mu dalam setiap langkah… :)

Senin, 10 September 2018


Lembaran Baru
(Oleh : Usi Supinar)

Lembaran kisah tak terhitung kian menumpuk mungkin nyaris membusuk
Setiap halaman kian melapuk
Tak ada yang tahu seberapa lama disana telah tertumpuk
Mungkinkah ini membuat pemiliknya terpuruk?

Lembaran baru mulai ia buka
Penuh yakin lembaran lama yang telah lapuk tak perlu lagi dibuka
Tak boleh lagi ia temui lembaran membusuk di halaman selanjutnya terbuka

Malam larut tak ia biarkan luput menutupinya
Berusaha ia tuliskan segala harap untuk ia gapai dalam perjuangannya

Perjuangan demi Ridho Rabb-nya. Bukan sekadar tak berani mengalahkan amarah yang mengajak pada kejahatan. Hawa nafsunya.

Ia bertekad memenuhi setiap halaman dengan penuh kedekatan pada Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Rabb-nya.

Cukup sudah keterpurukan di halaman sebelumnya, tiba masanya ia bangkit di halaman selanjutnya
Terlalu banyak coretan tinta di setiap tulisan lalu, setidaknya ia belajar untuk mengurangi jumlah coretannya

Tinta ia rapikan di pinggiran pena dan buku hariannya
Penuh kehati-hatian agar tinta tak akan tumpah mengotori setiap lembaran akibat kecerobohannya
Ia tegakkan tubuhnya, ia tuliskan kalimat pertamanya. Bismillah… Baru itu saja yang ada di benaknya


Ia mulai mengamati, apakah ada teman disana?
Yang sama-sama tengah menuliskan kalimat pertamanya
Yang juga siap menemukan keindahan di setiap lembar kisahnya
Yang tak akan menodai bahkan merusak setiap lembarannya. Miliknya terlebih milik sesamanya!

Ia bertekad.
Tak akan ia biarkan ditemuinya noda, coretan, lipatan, kerusakan. Apalagi sampai lembaran itu robek hingga ia tak mampu lagi menuliskan harapnya.

Awal peristirahatan ternyaman di kesunyian malam, 10 September 2018_23:34

BuahPenaUsiSupinar.blogspot.com
#30DWCJILID14
#SQUAD7
#HariKe-20
#Bismillah...
.
.

Bulatkan tekadmu, Tuliskan semua harapmu, Semoga Allah memudahkanmu… :)


Sabtu, 08 September 2018


Literatur Terbaik
(Oleh : Usi Supinar)

Di dua pertiga malam ia bangun dari lelapnya
Sebelumnya ia bergumam, tak ada sedikitpun niat untuk menyombongkan apa yang ia lakukan
Sebab sebagai makhluk yang penuh kebusukan mana ada yang bisa disombongkan

Ia teringat dengan sebuah ayat yang cukup membuatnya tercekat petang tadi.
Lembaran indah yang mengingatkan, bahwa betapa cinta-Nya tak ada yang menandingi.
“Dan pada sebagian malam, maka bertahajjudlah sebagai nafilah bagimu. Semoga Tuhanmu membangkitkanmu di sebuah kedudukan yang terpuji.” {Q.S Al-Isra (17) : 79}
Bagaimana mungkin ia dapatkan ibadah tambahan terbaiknya jika ia terus pulas dengan keterpurukannya?
Pantas ia dapatkan hatinya gelisah, dirasa hanya ia makhluk yang hina dan tak berguna dalam nalurinya
Tak sanggup ia puaskan batin dan nalarnya
Pantas saja…
Hatinya kerontang dan usang
Sebab ia tak dapatkan kedudukan terpuji di hadapan Rabb-nya.
Pantas saja…

Kembali ia buka lembaran kalam indah-Nya.
Pada sebuah ayat ia terpana,
“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya, dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu…” {Q.S Al-Mussammil (73) : 20}
Bagaimana mungkin ia termasuk orang yang bersama dengan Rosulnya jika untuk bangun dan menyingkapkan selimut saja ia tak mampu?
Malu tiba-tiba berkecamuk di benaknya

Lembaran demi lembaran ia buka, ia baca, dan ia resapi
Betapa indah ayat demi ayat yang dapat menuntunnya ini
Literatur terbaik, tak ada yang dapat menandingi
Bukti terindah bahwa Allah Maha Mengasihi
Mampukah ia raih literasi sedang masih ada kelumit dunia di hati?

Pojok kamar, memojokkan diri di hadapan Illahi, 09 September 2018_02:22

BuahPenaUsiSupinar.blogspot.com 
#30DWCJILID14 
#SQUAD7 
#HariKe-19
#Bismillah...
.
.
Bangun dari lelapmu, singkapkan selimutmu, bangkitlah kamu, pertemukan hatimu dengan Rabb-mu… J

Kau Harus = nya.
(Oleh : Usi Supinar)

Sejuknya pagi tadi lebih dari cukup membuatnya tersipu
Bukan karena sejuknya
Sekadar khayalan saja

Khayalnya pada kesejukan pandangan sesosok harapan
Harapan gapaian indahnya masa depan
Masa depan tanpa liku dan haru berbenturan
Berbenturan dengan masa demi masa dalam keterpurukan

Ia tak sanggup lagi terpuruk
Butuh baik demi hapuskan buruk

Ia tak bisa lagi meratap
Butuh sempurna demi penuhi lengkap

Duhai kawan...
Kau pasti tahu, dan ia pun mengakui itu.
Baik bagi yang baik
Buruk untuk yang buruk
Jika kau baik, ia bisa jadi yang terbaik
Jika ia baik, maka kaulah yang terbaik untuknya

Duhai...
Ia menunggumu
Tetaplah menjadi dirimu yang ia harapkan
Bukan menjadi yang ia cemaskan
Teruslah menjaga hatimu yang ia dambakan
Bukan merusak bahkan sampai menyia-nyiakan

Demi membersamainya kau butuh langkah pasti
Jangan pernah kau goyahkan langkah tegap menapaki

Tetaplah dalam keseimbangan

Demi menjemputnya,
Demi dipertemukan dengannya,
Demi ber = nya.

Langkah Berbekal Tujuan, 08 September 2018_20:32

BuahPenaUsiSupinar.blogspot.com 
#30DWCJILID14 
#SQUAD7 
#HariKe-18
#Bismillah...
.
.
Berjalanlah seimbang agar tak terjatuh, segeralah sampai di tempat yang kau tuju. :)

Jumat, 07 September 2018


Kau Calon Imamnya, Jadilah Pemimpin Terbaiknya
(Oleh : Usi Supinar)

Larut malam ia tak bisa terlelap
Bayangannya kalap
Semua harap ia dekap
Berandai tak sekedar meratap
Ia bimbang tanpa adanya kabar dan cakap
Lelah pikirnya cukup mengoyak sarap
Kau tahu? Itu karena ia cemas kau akan lenyap
Ia hanya bisa rasa getar dalam sekejap
Sayangnya sekejap itulah yang buat ia tersergap
Kini ia terperangkap

Dalam lirihnya
Dalah perihnya
Dalam sedihnya
Dalam tatihnya

Kau tahu? Sebelum larut ia sampaikan pesan padaku
Ia berkabar,
Pagi lalu satu sosok lembut menyapanya penuh hangat, membuatnya jauh semakin terbuai
Kau kah itu? Ia senyum penuh pinta kala terucap namamu
Ia akan bersabar,
Menanti sore tiba sepulang kau dari pencarian arah, menuju pertemuan yang harus kalian gapai

Tuntaskanlah pencarian bekal terbaikmu untuknya
Luruskanlah arah demi keindahan menemuinya
Timbun penuh rindumu untuk menjumpainya
Batasi lisan dari nafsumu demi menghargainya
Jaga mata dari segala godamu demi menjaganya
Kuatkan hati dari segala usik demi membersamainya
Bulatkan tekad terbaik demi mendapatkannya
Bimbing langkahmu menuju taman keabadian dengannya
Atur nafas menggebumu agar tak kelelahan saat mengejarnya
Jangan terlalu terburu-buru, ia mengharapkanmu lebih dari sekadar untuk memimpinnya

Karena ia tadi berucap

Kau lah calon imam impiannya,
Maka kau harus menjadi pemimpin terbaiknya!

Malam Penuh Pengharapan, 07 September 2018_23:45


BuahPenaUsiSupinar.blogspot.com 
#30DWCJILID14 
#SQUAD7 
#HariKe-17
#Bismillah...

Berjuanglah sekuat yang kau bisa, Biar Allah yang mengabulkan harapanmu! :))

Kamis, 06 September 2018


Harapan Yang Tertunda
(Oleh : Usi Supinar)

Ringkih tubuhnya mencari ketidakpastian
Demi pengapnya fatamorgana berujung penyesalan

Dalam sunyi benaknya menari
Ia berseri
Berlari
Menghampiri
Mengitari
Sosok lembut bertangkup jemari

Itu khayalnya, nyatanya ia sendiri dengan dekap harapan yang tertunda
Matanya terpana pada goresan tinta bersitkan rasa sampaikan asa yang tertunda
Mulutnya menganga kala setiap kata menyelinap gambarkan ucap yang tertunda
Matanya berlinang begitu paras lembut terbayang dengan rasa yang tertunda

Dimana singgahnya rasa?
Masihkah diperuntukkan baginya yang tengah menanti kepastian tiba?
Dimana letaknya duga?
Akankah menuju kepastian berujung senyum tanpa membekas luka?

Janjinya tertunda kala segenap rasa ia pendamkan demi kebahagiaan di masa depan
Ia lalaikan nafsu penuh nestapa demi keabadian beriringan bersama bergandengan
Ia tangguhkan khayalan panjang tak berujung demi tibanya penantian dalam dekapan
Ia urungkan niat keliru yang memburu demi kepastian berakhir dalam genggaman

Lagi-lagi ia tersenyum dalam lamunannya
Belum bukan berarti tidak akan
Yang tertunda bukan berarti  tak mampu untuk digapai

Biarkan harapnya tertunda
Biarkan lahir batinnya berusaha
Biarkan Rabb-nya qobulkan doa

Biarkan dulu tertunda

Di Senyap Teduh Mengharapkan Yang Tertunda, 06 September 2018_22:22

BuahPenaUsiSupinar.blogspot.com 

Yakinlah Allah akan jawab setiap harapmu yang tertunda, bersabarlah! :))


Rabu, 05 September 2018


Pendakian Penuh Makian
(Oleh : Usi Supinar)

Memang seperti itu alurnya kawan
Telah berlalu berpekan-pekan 
Haruskah timbul penyesalan?

Semua mata terpana
Semua rasa menerka
Semua salah di mata mereka

Setapak tak lagi ditemui
Alur jalan telah jauh beda mendaki
Biar seakan ia disalahi

Hidupnya sepi, tak berarti. Bertambah hampa tanpa arah penuh nestapa
Seakan beda, jadi alasan tak lagi menanti. Malam mencekam menenggelamkan lara
Benar di benaknya, salah di setiap jiwa mendapati. Benci padanya menyebut tanpa suara

Jalan panjang berbeda telah ia tapaki
Biarlah mulut mereka memaki
Biar sumpah serapah menyoraki

Ia tak harap semua mendekap penuh kasih
Jika hanya ungkap penuh munafik dalam kecamuk setiap desih
Percuma kentara baik bagi mereka, jika hanya goreskan perih dan lahirkan selisih

Berjalan ia sepanjang malam gulita tanpa pelita
Menapaki terjal dan curam tanpa kata dan cerita
Batin perempuan lusuh itu rapuh dan jauh masih tersita

Kala ia terjatuh, peluhnya menyentuh tanah terhempas dari hati yang kerontang
Ia merasa dirinya sekedar sampah tak berguna membuat semua mata gersang
Menengadahnya tergantikan gamang, biarkan rasa saja yang mengawang

Terbang menjauhi diri, mendekati Sang Illahi.


Jalan Lain Menuju Bukit, 05 September 2018_21:06

BuahPenaUsiSupinar.blogspot.com 
#30DWCJILID14 
#SQUAD7 
#HariKe-15
#Bismillah...

Biarkan mereka tak melihat baikmu, Biarkan langkah menunjukkan jalan terbaikmu :))